Inspiratif! Mahasiswa Agroteknologi Kenalkan Agroedukasi dan Kuliner Indonesia di Tailan

lkui.umsida.ac.id – Memasuki hari-hari baru di bulan kedua pelaksanaan International Internship di Tailan Selatan, berbagai program inovatif mulai diterbitkan kembali. Salah satu aksi nyata yang menarik perhatian diperlihatkan di Sekolah Chitphakdi Wittaya, Krong Pinang, Provinsi Yala. Di sekolah ini, pengabdian masyarakat tidak hanya menyentuh sektor pertanian saja, tetapi juga berhasil mengintegrasikan edukasi lingkungan dini dengan pengenalan budaya kuliner Nusantara. (06/07)

Selama satu bulan penuh, dinamika pengabdian berjalan dengan cukup produktif. Berbekal disiplin ilmu pertanian modern, langkah awal difokuskan pada revitalisasi infrastruktur agraris sekolah. Instalasi hidroponik yang sebelumnya kurang produktif kini diperbaiki secara struktural agar distribusi nutrisi tanaman berjalan optimal. Tak hanya itu, pengelolaan vegetasi tahunan di kebun durian sekolah juga menjadi agenda rutin guna memastikan pertumbuhan pohon buah unggulan lokal tersebut tetap terjaga.

Baca juga: Mahasiswa Magang Internasional Umsida Belajar Perspektif Multikultural di Tailan

Pengabdian di Krong Pinang ini tidak melulu soal turun ke ladang. Ruang kelas dan asrama pun menjadi panggung pengabdian formal dan non-formal. Mulai dari membantu pihak manajemen sekolah dalam memproduksi konten digital kreatif, mendampingi kelas Bahasa Inggris di tingkat Anuban (Taman Kanak-Kanak) dengan metode fun learning, hingga mengisi kegiatan malam dengan mengajar mengaji bagi murid-murid asrama sekolah. Puncak keseruan terjadi baru-baru ini melalui sebuah program bertajuk “Agroedukasi Mikro”. Program ini menyasar murid-murid tingkat Anuban untuk belajar bertani dengan cara yang menyenangkan dan ramah lingkungan.


Murid-murid diajak untuk memanfaatkan limbah domestik, yaitu kotak atau wadah bekas susu yang mereka minum sehari-hari sebagai pot edukatif. Di dalam wadah tersebut, setiap anak diajarkan menyemai biji kacang hijau secara mandiri. Langkah ini terbukti efektif memicu rasa ingin tahu murid-murid tentang bagaimana sumber pangan proses tumbuh. Antusiasme memuncak ketika memasuki hari ketiga. Biji-biji yang mereka siram dengan tekun berhasil bertunas dengan subur menjadi kecambah segar, atau yang oleh masyarakat setempat akrab disebut sebagai “anak kacang”. Melalui aktivitas sederhana ini, murid-murid Chitphakdi Wittaya Krongpinang School belajar secara langsung mengenai siklus hidup tanaman sekaligus konsep daur ulang sejak dini.

Keberhasilan eksperimen kecil ini menorehkan senyum lebar di wajah para murid disana. Salah satu murid dengan ceria mengungkapkan rasa takjubnya saat melihat wadah susunya kini berubah hijau. “Teacher ini yang kemarin kita tanam ya? Tapi setelah dirawat setiap hari, keluar tanaman kecil! Seru sekali melihat ‘anak kacang’ ini tumbuh di kotak susu,” ujar salah satu murid Anuban dengan bahasa melayu sembari memamerkan tanaman kecilnya dengan bangga. Edukasi tidak berhenti sampai pada tahap memanen kecambah. Untuk memberikan pengalaman belajar yang utuh sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, petualangan berlanjut ke dapur sekolah. Kali ini, peran mahasiswa Agroteknologi tersebut berganti menjadi seorang chef yang siap meracik menu hilirisasi pangan.

Baca juga:
Umsida dan Loei Thailand Bersinergi Dorong Pendidikan Internasional

Kecambah hasil panen mandiri para siswa tersebut diolah dan dikombinasikan ke dalam adonan tepung dan sayur untuk membuat masakan khas Indonesia, Ote-Ote (bakwan sayur). Langkah diplomasi kuliner ini sengaja dipilih karena sifatnya yang universal dan mudah diterima oleh lidah masyarakat lokal. Ketika Ote-Ote matang yang renyah dan gurih disajikan, murid-murid Anuban menyambutnya dengan sangat lahap. Program ini berhasil membuktikan bahwa sayuran yang sering kali dihindari oleh murid-murid, justru menjadi hidangan yang sangat digemari ketika mereka terlibat langsung dalam proses menanamnya.


Kegiatan kreatif yang menggabungkan pertanian, edukasi anak, dan budaya ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak manajemen sekolah. Kepala Sekolah Chitphakdi Wittaya menyampaikan rasa terima kasih dan kekagumannya atas dampak positif yang dibawa oleh program International Intrenship ini. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran mahasiswa International Internship dari Indonesia di sini. Mereka tidak hanya membantu memperbaiki fasilitas hidroponik dan kebun sekolah kami, tetapi juga membawa metode belajar yang sangat kreatif untuk murid-murid di jenjang Anuban. Mengubah barang bekas menjadi media tanam lalu mengolah hasilnya menjadi makanan tradisional Indonesia adalah inovasi yang luar biasa dan sangat mendidik bagi siswa kami,” ungkap Kepala Sekolah Chitphakdi Wittaya Krongpinang, Rohanee Lussamano.

Momen di Sekolah Chitphakdi Wittaya telah memberikan catatan refleksi yang mendalam. Melalui perpaduan ilmu agroteknologi, dedikasi sosial, dan sedikit kreativitas kuliner, program KKN Internasional ini berhasil membangun jembatan emosional dan budaya yang kuat antara Indonesia dan Tailan di pelosok Krong Pinang. Program agroedukasi ini diharapkan terus berkelanjutan dan memicu inovasi-inovasi hijau lainnya di bulan-bulan mendatang.

Aditya Fajar Saputra
Editor: KUI Umsida

Related Posts

Kedubes Malaysia Kunjungi Umsida, Buka Peluang Beasiswa Internasional dan Dual Degree

lkui.umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) terus memperkokoh langkahnya dalam...