Langkah Strategis AP Umsida Lewat International Class Laboratory – Persiapkan Ahli Kebijakan Masa Depan

lkui.umsida.ac.idProgram Studi Administrasi Publik (AP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) terus memperluas cakrawala akademiknya dengan menciptakan atmosfer pembelajaran berskala dunia. Tak sekadar belajar di dalam kelas konvensional, para mahasiswa diajak menyelami isu-isu global melalui agenda International Class Laboratory yang digelar di Laboratorium prodi Administrasi Publik Umsida. Kegiatan ini menjadi ajang diskusi interaktif antara mahasiswa lokal maupun internasional dengan para pakar dari Malaysia dan Filipina. Langkah strategis ini dilakukan dengan mengoptimalisasi tiga laboratorium utama sebagai pusat riset dan pembelajaran praktik. Melalui kolaborasi lintas negara ini, AP Umsida berusaha memastikan bahwa mahasiswanya tidak hanya kompeten secara teori di level nasional, tapi juga khatam mengenai dinamika kebijakan publik dunia. (20/06).

Laboratorium pertama yang memulai sesi adalah Laboratorium e-Government. Di sini, fokus utama diskusi adalah mengenai bagaimana kecanggihan teknologi informasi dapat mengubah wajah birokrasi. Isu ini sangat relevan mengingat transformasi digital saat ini merupakan jantung dari pelayanan publik modern. Narasumber utama, Dr. Kenneth Lee Tze Wui, M.Comm., Ph.D dari Universiti Tunku Abdul Rahman (UTAR), Malaysia, membagikan pengalamannya mengenai peta jalan digitalisasi di Negeri Jiran. Ia menekankan bahwa transisi menuju pemerintahan digital seringkali terbentur pada masalah kepercayaan publik. “Digital governance tidak hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana pemerintah mampu membangun komunikasi publik yang terbuka dan dipercaya masyarakat,” jelasnya. Pemaparan Kenneth memberikan tamparan realitas bagi mahasiswa bahwa secanggih apa pun aplikasinya, tanpa komunikasi publik yang transparan, sistem tersebut tidak akan maksimal.

Baca juga: Malam Balet Kazakhstan: Kemegahan “Ma Carmen” dan “Salome”


Bergeser ke sisi lain, Laboratorium Governance dan Manajemen Pelayanan Publik mengupas tuntas mengenai strategi peningkatan kualitas layanan. Sesi ini dipandu oleh Zshyna Mae Ahmed, MPA dari Pangasinan State University, Filipina. Filipina sendiri dikenal memiliki tantangan geografis dan sosial yang mirip dengan Indonesia, sehingga studi kasus yang dibagikan terasa sangat kontekstual. Zshyna mengingatkan bahwa pemerintah seringkali terjebak dalam rutinitas administratif sehingga lupa pada esensi pelayanan, yaitu kepuasan warga. Menurutnya, inovasi jangan hanya lahir untuk mengikuti tren, tapi harus menjadi solusi nyata. “Inovasi pelayanan publik harus berbasis pada kebutuhan masyarakat agar layanan yang diberikan benar-benar relevan dan berdampak,” ungkapnya. Diskusi di laboratorium ini mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis bahwa setiap daerah memiliki keunikan masalah yang membutuhkan pendekatan pelayanan yang berbeda pula.


Topik yang tak kalah krusial dibahas di Laboratorium Kebijakan Publik dan Perencanaan Pembangunan. Di bawah arahan Dr. Madlyn D. Tingco, DPA yang juga berasal dari Pangasinan State University, diskusi fokus pada perencanaan strategis untuk komunitas yang berkelanjutan (Sustainable Communities). Di tengah ancaman perubahan iklim dan ketimpangan sosial, Madlyn menegaskan bahwa perencana pembangunan harus memiliki pandangan jauh ke depan. Ia menyoroti bahwa integrasi antara kebijakan lingkungan dan partisipasi warga adalah harga mati dalam perencanaan modern. “Perencanaan pembangunan yang baik harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat saat ini tanpa mengabaikan keberlanjutan di masa depan,” jelasnya.

Baca juga: ENULife: Catatan Kunjungan Mahasiswa Umsida ke Eurasian National University


Mahasiswa berpartisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi aktif menyampaikan pertanyaan yang membandingkan kondisi administrasi publik di Indonesia dengan Malaysia maupun Filipina. Dialog interaktif ini menciptakan atmosfer akademik yang hidup dan kompetitif secara sehat. Kaprodi AP Umsida, Ilmi Usrotin Choiriyah, M. AP, menegaskan bahwa International Class Laboratory adalah bagian dari visi besar internasionalisasi kurikulum. Hal ini penting agar lulusan AP Umsida tidak hanya berorientasi mencari kerja di dalam negeri, tapi juga siap berkarier atau melanjutkan studi di kancah global. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami secara langsung isu-isu administrasi publik di berbagai negara dan memperluas wawasan global mereka,” ujarnya. Dengan keberhasilan agenda ini, AP Umsida membuktikan bahwa batas-batas negara bukan lagi penghalang untuk bertukar ilmu. Sinergi antara teori dari laboratorium dan wawasan praktis dari para pakar internasional ini menjadi modal kuat bagi mahasiswa untuk menjadi calon administrator publik yang adaptif, inovatif, dan berwawasan luas.

LKUI Umsida

Related Posts

Perkuat Jejaring Global, Rektor Umsida Sambut Delegasi Filipina dan Malaysia

lkui.umsida.ac.id – Program Studi Administrasi Publik (AP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo...

Umsida dan UTAR Malaysia Jalin Kolaborasi Strategis, Perkuat Riset dan Jejaring Akademik Internasional

lkui.umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) terus menunjukkan komitmennya dalam...