Mahasiswa Magang Internasional Umsida Belajar Perspektif Multikultural di Tailan

lkui.umsida.ac.id – Tailan dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi. Salah satu tradisi yang unik adalah Pha Sat Loi Khro, sebuah ritual budaya yang hanya diselenggarakan oleh masyarakat Chiang Khan Provinsi Loei. Meskipun sekilas mirip dengan Festival Loy Krathong yang terkenal di seluruh Tailan, Pha Sat Loi Khro memiliki bentuk, bahan, tata cara, serta makna spiritual yang berbeda sehingga menjadi identitas budaya khas masyarakat Chiang Khan. (06/07)

Secara harfiah, Pha Sat berarti “istana” atau replika bangunan bertingkat yang dibuat dari batang dan pelepah pisang, sedangkan Loi Khro berarti “menghanyutkan kesialan”. Oleh karena itu, tradisi ini dimaknai sebagai simbol untuk melepaskan segala kesialan, penyakit, kesedihan, dan hal-hal buruk yang pernah dialami, sekaligus memohon keberkahan, keselamatan, kesehatan, serta harapan baru bagi kehidupan di masa depan.

Baca juga: Umsida dan Loei Thailand Bersinergi Dorong Pendidikan Internasional

Perayaan ini biasanya dilaksanakan mulai pukul 17:00 hingga sekitar 21:00. Kegiatan diawali dengan prosesi berjalan kaki dari satu kuil menuju kuil lainnya. Suasananya menyerupai karnaval budaya karena diikuti oleh masyarakat dari berbagai kalangan yang mengenakan pakaian tradisional Tailan. Para guru dari berbagai sekolah di Chiang Khan diwajibkan mengikuti kegiatan ini sebagai bentuk pelestarian budaya daerah. Umumnya mereka mengenakan pakaian adat dengan atasan berwarna putih atau hitam, sedangkan peserta dari luar daerah atau warga asing diperbolehkan mengenakan pakaian yang sopan.

Selama prosesi berlangsung, setiap peserta membawa Pha Sat, yaitu kerajinan tangan berbentuk menyerupai istana atau piramida yang dibuat dari batang dan pelepah pisang, kemudian dihias dengan daun pisang serta bunga. Di bagian atasnya dipasang lilin sebagai lambang cahaya, harapan, dan doa.

Sebelum menghanyutkannya ke Sungai Mekong, setiap peserta terlebih dahulu memanjatkan doa. Saat Zelfa, mahasiswa magang di Sekolah Ban Chiangkhan, hendak berdoa, mentornya, Teacher Iyu, mengatakan, “Saat berdoa, jangan menoleh ke belakang. Jika kamu menoleh ke belakang, itu berarti kamu masih ingin membawa hal-hal buruk yang seharusnya kamu lepaskan. Tetaplah menghadap ke depan dan berdoalah dengan tulus agar semua kesialan hanyut bersama aliran sungai.” (Kutipan tersebut diterjemahkan dari bahasa Inggris).

Baca juga: Keindahan dan Kemegahan Grand Mosque Central Asia, Simbol Spiritual Baru di Kazakhstan

Setelah selesai berdoa menurut keyakinannya, ia menghanyutkan Pha Sat ke Sungai Mekong bersama peserta lainnya sebagai bentuk penghargaan dan simbol melepaskan kesialan, sekaligus ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada Sungai Mekong yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.

Tradisi Pha Sat Loi Khro tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan dan budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat. Melalui tradisi ini, masyarakat diajarkan untuk meninggalkan segala hal negatif, bersyukur atas kehidupan yang telah dijalani, menghormati alam, serta menyambut masa depan dengan penuh harapan dan optimisme. Nilai-nilai tersebut menjadikan Pha Sat Loi Khro sebagai salah satu warisan budaya yang sangat berharga dan terus dilestarikan oleh masyarakat Chiang Khan hingga saat ini.

Nur Khalifah

Related Posts