lkui.umsida.ac.id – Bulan Juni menjadi momen yang tidak akan terlupakan bagi salah satu peserta program Joint Intership and Community Services, Abimael, mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, saat pertama kali menginjakkan kaki di Bangkok, Tailan. Menurutnya, suasana bandara itu sekilas membawa memori pada kemiripan arsitektur Bandara Juanda, Surabaya. Seketika momen itu terjadi, ia merefleksikan tentang perjalanan yang ia tempuh, bahwa menjadi peserta yang lulus seleksi program adalah buah dari persiapannya yang cukup panjang, yang memerlukan tenaga optimal, kesiapan mental, maupun finansial. Namun, seluruh kerja keras tersebut terbayar lunas begitu ia telah tiba di kaki di negeri the Land of Smiles itu dengan selamat. (29/06).
Baca juga: Menyelami Harmoni Budaya dan Semangat Pendidikan di Yala, Thailand: Sebuah Catatan Perjalanan International Internship and Community Services

Selama program berlangsung, Abimael ditugaskan di sekolah yang terletak di Wangsapung District, Ban Wan Taeng School. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan terpadu yang menaungi beberapa jenjang sekaligus, antara lain Taman Kanak-Kanak (Jenjang 1, 2, dan 3), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di sini lah sebuah tradisi tahunan yang sangat penting digelar, yaitu perayaan Hari Guru. Berbeda dengan perayaan di tanah air, Hari Guru di Tailan—atau yang dikenal dengan prosesi Wai Kru—dirayakan dengan nuansa tradisi turun-temurun yang sangat sakral. Bagi masyarakat setempat, profesi guru sangat dihormati karena mereka merupakan pilar utama dalam menanamkan kedisiplinan, tata krama, dan sopan santun kepada generasi muda.
“Menurut saya (pengalaman ini) adalah suatu pengalaman baru, yang menunjukkan bahwa guru di Tailan termasuk pekerjaan yang sangat di hormati selain Officer. Momen tradisi ini bisa dikatakan unik, tidak terlalu modern dan tradisional. Sehingga saya menilai ini cukup balance. Selain itu, proses ini merupakan sebuah penghormatan dari murid ke guru yang bisa meningkatkan hubungan yang baik bagi kedua pihak, contohnya dengan memberikan bunga, meskipun terlihat simple, tapi sudah termasuk suatu pebuatan mulia,” ucap Abimael.

Salah satu daya tarik paling memikat dari perayaan ini adalah konsepnya yang membawa nuansa tradisional yang cukup kental. Persiapannya pun tidak main-main. Setiap kelas diwajibkan untuk berkreasi membuat satu dekorasi menyerupai vas bunga munjung. Keunikan dari dekorasi ini terletak pada pemilihan bahannya. Para siswa diwajibkan memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada di sekitar lingkungan mereka untuk dirangkai menjadi sebuah karya seni. Setelah itu, seluruh hasil karya siswa tersebut akan dinilai langsung oleh jajaran guru. Dalam hal penilaian kreasi ini, terdapat dua indikator utama, yakni Estetika (Kecantikan Desain) serta Kerapian yakni tingkat ketelitian siswa dalam merangkai bahan-bahan alami tersebut.
Baca juga: Perkuat Jejaring Global, Umsida Gelar International Conference Bedah Transformasi Publik di Era Disrupsi
Inti dari seluruh rangkaian acara ini berpusat pada prosesi Wai (sikap memberi salam dengan mengatupkan kedua tangan). Berbeda dengan salam harian biasa, prosesi Wai pada Hari Guru dilakukan dengan penuh khidmat dan rasa hormat yang mendalam. Secara bergantian dan berregu, perwakilan siswa dari jenjang terendah hingga yang paling tinggi maju ke depan aula. Mereka melakukan ritual penghormatan yang ditujukan kepada potret Raja dan Ratu, kemudian dilanjutkan kepada seluruh guru yang duduk berjejer di atas panggung. Prosesi ini diakhiri dengan penyerahan vas bunga alami hasil kreativitas mandiri para siswa sebagai simbol bakti dan terima kasih atas ilmu yang telah diamalkan.
Sebagai perwakilan mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Abimael menyaksikan secara langsung tradisi ini memberikan impresi yang sangat mendalam. Konsep acara yang memadukan kedisiplinan modern dengan kelestarian adat kuno menjadi sebuah pemandangan baru yang edukatif sekaligus menginspirasi. Hal ini menjadi sebuah awal dari perjalanan panjang dalam menyelami budaya baru di institusi pendidikan Tailan yang dinantikan kelanjutannya.
Penulis: M. Abimael Samlin
Editor: LKUI Umsida




