Menyelami Harmoni Budaya dan Semangat Pendidikan di Yala, Thailand: Sebuah Catatan Perjalanan International Internship and Community Services

lkui.umsida.ac.id – Bulan Juni menjadi saksi berlanjutnya langkah pengabdian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) di tanah rantauan gajah putih. Melalui program Internasional Internship and Community Services di Yala, sebuah provinsi di wilayah selatan Tailan, kini menjadi rumah kedua bagi mahasiswa Agroteknologi Umsida, Aditya, untuk belajar, mengabdi, dan berbaur langsung dengan masyarakat lokal. Kehadirannya di sana tidak hanya membawa misi akademik dan riset agroteknologi tetapi juga misi pertukaran budaya yang sarat akan makna sosial bagi kedua belah pihak.

Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di Yala adalah perpaduan budaya yang sangat unik dan memikat. Berbeda dengan bayangan banyak orang tentang kota-kota besar di Thailand yang hiruk-pikuk, Yala menawarkan nuansa yang jauh lebih tenang dengan sentuhan Islami dan kebudayaan Melayu yang sangat kental. Mayoritas penduduk di daerah ini adalah Muslim, sehingga tidak sulit bagi Aditya yang berasal dari Indonesia untuk menemukan makanan halal maupun beradaptasi dengan tradisi sehari-hari mereka. Masyarakat Sekolah Chitphakdi Wittaya Krong Pinang School Yala menyambutnya dan rekannya, Eka Putra Gemilang Dari Universitas Muhammadiyah Gresik dengan tangan terbuka dan senyuman hangat yang langsung menciptakan rasa persaudaraan yang erat.

Baca juga: UMSIDA Perkuat Komitmen Lingkungan melalui Kerja Sama dengan DLHK Sidoarjo dan PT Tjiwi Kimia

“Kami sangat senang dengan kedatangan mahasiswa dari Indonesia dari Universitas Muhammadiyah tentunya. Kalian membawa semangat baru di sekolah ini, dan kita bisa saling bertukar pengetahuan, pembelajaran Bahasa Inggris, baik tentang budaya maupun cara bertani yang lebih modern dan efisien,” ujar Rohanee, selaku Direktur Utama Chitphakdi Wittaya Krong Pinang School yang akan membantu mengarahkan program kegiatan mahasiswa baik di lapangan maupun kelas untuk mengajar.

Pernyataan tersebut benar-benar mencerminkan dinamika sosial yang Aditya rasakan selama berada di Yala. Interaksi sosial berjalan dua arah secara harmonis. Di satu sisi, mahasiswa membagikan inovasi dan ilmu yang telah dipelajari di kampus, seperti pemanfaatan pupuk organik cair untuk mengoptimalkan hasil panen hidroponik. Di sisi lain, mereka juga belajar banyak tentang kearifan lokal masyarakat Yala dalam mengelola sumber daya alam mereka. Kegigihan mereka dalam menjaga keseimbangan alam sekitar menjadi sebuah pelajaran berharga yang nyatanya tidak selalu bisa didapatkan di dalam ruang kelas.

Dari segi pendidikan, program pengabdian ini menyasar kelompok belajar siswa Sekolah Dasar kelas I-VI serta Sekolah Menengah Pertama kelas I-III. Pendekatan pendidikan yang dibawa oleh mahasiswa tidak hanya soal teori akademis yang kaku, tetapi juga melalui praktik lapangan dan diskusi interaktif yang lebih santai. Anak-anak di sekolah tersebut terlihat memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap kehidupan di Indonesia. Di sela-sela kegiatan, mereka sering bertanya tentang keragaman bahasa, kebiasaan, hingga bagaimana sistem pendidikan di Indonesia beroperasi.

Baca juga: Langkah Strategis AP Umsida Lewat International Class Laboratory – Persiapkan Ahli Kebijakan Masa Depan

“Saya baru tahu kalau Indonesia itu sangat luas dan punya ribuan pulau. Saya berharap suatu saat nanti bisa berkunjung dan belajar pertanian langsung di sana, apalagi setelah melihat cara kakak-kakak mahasiswa ini bekerja dengan keren,” kata Nur Siti, seorang siswi sekolah menengah dengan bahasa Melayu Kelantan penuh antusias.

Mendengar antusiasme dan respons positif seperti itu, rasa lelah akibat padatnya jadwal riset seolah terbayar lunas. Ada kepuasan batin tersendiri ketika kehadiran kita di tempat yang jauh ini tidak sekadar singgah sebentar, melainkan mampu meninggalkan jejak inspirasi bagi generasi muda di daerah sekolah pengabdian. Pendidikan pada hakikatnya memang bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana membangun karakter, menginspirasi, dan membuka wawasan lintas batas negara.
Secara keseluruhan, pengalaman hidup bermasyarakat di provinsi Yala memberikan perspektif baru tentang arti toleransi, keberagaman, dan kolaborasi internasional. Perbedaan bahasa terkadang memang menjadi tantangan tersendiri pada hari-hari pertama, namun bahasa kepedulian dan kerja keras nyatanya selalu bisa dipahami oleh siapa saja. Bagi Aditya, program di Yala ini bukan sekadar menunaikan kewajiban akademik semata, melainkan sebuah perjalanan panjang menemukan jati diri, mengasah kepekaan sosial, dan merajut persaudaraan tanpa mengenal batas teritorial negara.

Penulis: Aditya Fajar Saputra

Editor: LKUI Umsida

Related Posts