Kolaborasi Akademisi dan Warga Gisikdrono dalam Mewujudkan Tata Kelola Lingkungan yang Menyejahterakan

lkui.umsida.ac.id – Administrasi publik bukan sekadar teori di balik meja birokrasi, melainkan sebuah praktik nyata yang menyentuh akar rumput. Prinsip inilah yang mendasari Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) saat melakukan governance visit dan studi tiru ke RW 05 Kelurahan Gisikdrono, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang, pada Kamis (24/04). Kunjungan ini membedah bagaimana tata kelola sampah yang inovatif mampu mengubah wajah sebuah pemukiman menjadi percontohan nasional. RW 05 Gisikdrono bukan sekadar wilayah administratif biasa. Kawasan ini telah menjelma menjadi laboratorium hidup bagi para akademisi untuk mempelajari sinergi antara pemerintah lokal dan partisipasi aktif warga. Kehadiran tim AP Umsida bertujuan untuk menyerap sari pati keberhasilan pengelolaan lingkungan yang mampu menggerakkan roda ekonomi sekaligus kesejahteraan sosial. Lurah Gisikdrono, Sandi Indrawan, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap ketertarikan dunia akademik pada wilayahnya. Ia memaparkan bahwa inovasi yang lahir dari RW 05 merupakan buah dari ekosistem yang mendukung kreativitas warga. Dari pemanfaatan minyak jelantah hingga pengelolaan alat pembakar sampah ramah lingkungan (insinerator), semuanya bermuara pada satu predikat: Kampung Hebat se-Kota Semarang. “RW 05 ini wilayah unggulan kami. Terkenal dengan inovasi lingkungan, mulai dari pemanfaatan minyak jelantah jadi setrika uap, insinerator, hingga juara Kampung Hebat se-Kota Semarang,” ujarnya.

Baca juga: Langkah Strategis AP Umsida Lewat International Class Laboratory – Persiapkan Ahli Kebijakan Masa Depan


Namun, bagi Sandi, trofi juara bukanlah tujuan akhir. Ia ingin setiap RW memiliki kemandirian dengan keunikan potensinya masing-masing. Pemerintah kelurahan memposisikan diri sebagai katalisator yang menghubungkan aspirasi warga dengan peluang pembangunan yang lebih luas. “Kami di kelurahan berperan koordinasi dan mendorong peluang yang ada. RW 05 kami kembangkan bukan untuk lomba saja, tapi jadi wisata edukasi. Biar wilayah lain bisa belajar,” tegasnya. Di sisi lain, Ketua RW 05, Pak Jaka, menyambut rombongan dengan penuh kehangatan. Baginya, kunjungan akademisi merupakan validasi atas kerja keras warga selama bertahun-tahun. Perjalanan RW 05 menjadi kampung percontohan dimulai dari kesadaran kolektif mengenai pentingnya kebersihan lingkungan sejak tahun 2025. “Ini kehormatan bagi kami. Kehadiran bapak ibu semua meningkatkan semangat warga,” ucapnya. Pak Jaka menekankan bahwa kunci utama keberhasilan mereka bukanlah pada teknologi mahal, melainkan pada kekuatan modal sosial yang bernama gotong royong. Edukasi mengenai sampah dilakukan secara persuasif sehingga warga merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungannya sendiri. “Kami mengikuti kehendak masyarakat. Edukasi sampah itu penting. Kuncinya masyarakat Gisikdrono mau gotong royong,” jelas Pak Jaka.

Detail teknis mengenai operasional Bank Sampah dijelaskan dengan sangat apik oleh Ibu Mutiara. Di tangan para ibu rumah tangga di Gisikdrono, sampah tidak lagi dianggap sebagai kotoran, melainkan bahan baku yang bernilai ekonomi tinggi. Mereka menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) secara ketat dan terintegrasi dengan sektor pertanian perkotaan (urban farming). “Sampah kami pilah dengan prinsip 3R. Sisa makanan jadi budidaya maggot, sisa sayur dan kulit buah jadi kompos dan eco enzyme. Cairannya untuk menyiram tanaman urban farming,” ujarnya. Yang paling menggetarkan hati para peserta governance visit adalah bagaimana hasil ekonomi dari Bank Sampah ini dikelola. Alih-alih digunakan untuk kepentingan pribadi, keuntungan yang didapat justru dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk aksi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa tata kelola lingkungan yang baik secara otomatis akan meningkatkan ketahanan sosial masyarakat. “Bank sampah ini sumber rezeki. Hasilnya kami salurkan untuk yatim. Sekarang ada 500 anak yatim dan fakir miskin dari RT 1-10 yang terbantu,” kata Ibu Mutiara.

Baca juga: Internasionalisasi Kampus: Prodi Administrasi Publik Umsida Hadirkan Pakar Lintas Negara dalam Acara Visiting Professor 2026


Ilmi Usrotin Choiriyah, perwakilan dari AP Umsida, menyatakan bahwa pemilihan Semarang sebagai lokasi studi tiru tahun ini sangat tepat. Apa yang dilihat di lapangan merupakan bukti nyata bahwa teori-teori administrasi publik, seperti collaborative governance, benar-benar bisa diimplementasikan secara sukses.
“Tahun ini jatah Kota Semarang jadi lokasi governance visit Prodi AP UMSIDA. Kami memang ingin mencari wawasan secara real di lapangan. Jadi pas belajar di sini. Terima kasih bapak ibu. Ke depan RW 05 bisa menjadi percontohan di desa kami,” ujarnya. Kunjungan ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni saja. Isna Fitria Agustina menambahkan bahwa Umsida berkomitmen untuk menjalin kerja sama jangka panjang yang mencakup penelitian dan pengabdian masyarakat guna memperkuat sistem yang sudah ada di RW 05. “Ke depan kami mau MoU dan bekerja sama di bidang riset, pengabdian, dan lainnya. Praktik di RW 05 ini luar biasa dan bagi bermanfaat,” ucapnya. Sebagai penutup, Pak Jaka merangkum filosofi besar di balik gerakan mereka. Fokus pembangunan warga tidak boleh timpang; harus mencakup seluruh aspek kehidupan agar keberlanjutan tetap terjaga. “Lingkungan, Ekonomi, Kesejahteraan dan Kesehatan. Itu tujuan kami memajukan warga,”.

LKJUI Umsida

Related Posts

UMSIDA Perkuat Komitmen Lingkungan melalui Kerja Sama dengan DLHK Sidoarjo dan PT Tjiwi Kimia

Dilansir dari berita Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar kegiatan...

Sinergi Akademis dan Birokrasi Umsida Gandeng Pemkab Rembang dalam Konferensi Internasional Administrasi Publik

lkui.umsida.ac.id – Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida)...